Di Posting Oleh : PAKNAI
Kategori : Vignette
Aku menemani kak nailah mengikuti lomba tahfidz di yayasan tempat dia mengaji.
Jauh hari sebelum perlombaan, dia sudah mempersiapkan diri dengan mengulang-ulang hafalannya. Namun tadi malam, aku melarangnya untuk mengulang hafalan. karena menurutku jika terjadi kesalahan malam ini, itu akan membuatnya terbeban saat perlombaan besok.
Seperti prediksi ku, Nailah bisa melangkah ke babak berikutnya.
Beberapa saat sebelum babak selanjutnya dimulai. Salah seorang gurunya memanggil dan mengajaknya masuk ke sebuah ruangan. sedangkan aku diminta untuk menunggu diluar.
"kata ummi, ga boleh bilang sama papa." jawabnya.
Aku kemudian mengalihkan pembahasan pada hal lain.
Babak final lomba dimulai.
Orang tua dari peserta diperkenankan untuk ikut masuk ke dalam ruangan. Seperti biasa, Aku mengambil tempat tepat di depan peserta yang sedang diuji. "biar nanti saat tampil si kakak lebih yakin." pikirku.
Pertanyaan pertama dilahapnya. Bibirnya tersenyum dan matanya mengarah padaku saat dengan lantang dia menjawab pertanyaan tersebut.
Tapi, kali ini ada yang berbeda dengan reaksinya.
Dia menahan pandangannya pada pembawa acara itu.
"apa yang dicarinya?" pikirku.
Besok harinya pemenang perlombaan diumumkan.
Tidak ada nama Nailah yang dipanggil untuk naik ke atas panggung. Dengan langkah lunglai dia mendatangiku. Kedua tanganku terbuka siap memeluknya. Ada dua titik air di sudut matanya.
"Dan sebaliknya, pelajaran besar apa yang kau dapat dari kekalahan ini? Apa kelemahan dan kekuranganmu serta kesiapanmu untuk menerima hasilnya?"
Kami banyak bercerita tentang kejujuran sepanjang perjalanan pulang.
Meski kesal dengan sikap gurunya, tapi aku ngga mengucapkan kekesalanku didepan Nailah. Aku tahu, guru juga manusia. Egonya juga bisa menggodanya untuk menunjukkan kalau muridnya juga bisa juara.




Posting Komentar
Posting Komentar