n1ljWYmZyLaHa1TMPYBBtiqVcQolSr0KLMIOwgVb

Cari Blog Ini

Gambar tema oleh Igniel

Laporkan Penyalahgunaan

Mengenai Saya

MENGEJAR JUARA

MENGEJAR JUARA
Di Posting Oleh : PAKNAI
Kategori : Vignette

mengejar juara

Aku menemani kak nailah mengikuti lomba tahfidz di yayasan tempat dia mengaji.

Jauh hari sebelum perlombaan, dia sudah mempersiapkan diri dengan mengulang-ulang hafalannya. Namun tadi malam, aku melarangnya untuk mengulang hafalan. karena menurutku jika terjadi kesalahan malam ini, itu akan membuatnya terbeban saat perlombaan besok.

Seperti prediksi ku, Nailah bisa melangkah ke babak berikutnya.

Beberapa saat sebelum babak selanjutnya dimulai. Salah seorang gurunya memanggil dan mengajaknya masuk ke sebuah ruangan. sedangkan aku diminta untuk menunggu diluar.


saat dia keluar dari ruangan itu, "apa kata umminya kak?" tanyaku.

"kata ummi, ga boleh bilang sama papa." jawabnya.

Meski kesal dengan jawaban itu, aku ngga mendesaknya untuk memberikan bocoran. dalam hati aku berpikir, "pembicaraan apa yang membuat mereka harus merahasiakannya padaku."

Aku kemudian mengalihkan pembahasan pada hal lain.

Babak final lomba dimulai.

Orang tua dari peserta diperkenankan untuk ikut masuk ke dalam ruangan. Seperti biasa, Aku mengambil tempat tepat di depan peserta yang sedang diuji. "biar nanti saat tampil si kakak lebih yakin." pikirku.

Pembawa acara berada di sebelah kananku. Dia adalah guru yang memanggil Nailah tadi. Dewan juri berada di sebelah kiri.

Tibalah waktunya si kakak dipanggil.

Pertanyaan pertama dilahapnya. Bibirnya tersenyum dan matanya mengarah padaku saat dengan lantang dia menjawab pertanyaan tersebut.

pertanyaan kedua juga bisa dijawab dengan tuntas.

Masuk ke pertanyaan ketiga. "sambungkan ayat ini..!" kata pembawa acara. Diikuti dengan lafal ayat terakhir dari surah al zalzalah.

Aku tahu bahwa disinilah titik kelemahannya. Nailah kurang mengingat urutan-urutan surah dalam Al Qur'an.

Tapi, kali ini ada yang berbeda dengan reaksinya.

Biasanya, saat menjawab pertanyaan dia selalu mengarahkan pandangan kepadaku. sorot mata itu seakan-akan meminta persetujuan dan keyakinan melalui reaksiku.

Namun, kali ini berbeda.

Dia menahan pandangannya pada pembawa acara itu.

"apa yang dicarinya?" pikirku.

"sambungkan ayat ini...!" kembali pertanyaan yang sama di ulangi oleh pembawa acara.

Dan, mata itu belum mengarah padaku. Dia masih menghadap kesana. seolah-olah sedang mengharapkan sesuatu yang lebih dari pertanyaan itu.

Setelah pertanyaan diulang untuk ketiga kalinya, si kakak membuka suara untuk menjawabnya. Meski aku tahu jawabannya salah, tapi aku melemparkan senyuman saat mata itu mengarah padaku.

Besok harinya pemenang perlombaan diumumkan.

Tidak ada nama Nailah yang dipanggil untuk naik ke atas panggung. Dengan langkah lunglai dia mendatangiku. Kedua tanganku terbuka siap memeluknya. Ada dua titik air di sudut matanya.

"Papa tahu kalau kakak sedih ngga dapat juara. Tapi, papa senang." kataku.

"Papa ga senang kakak menang lomba?" katanya sambil melepaskan diri dari pelukanku.

"Papa senang kalau kakak menang. Tapi dengan cara yang benar. Bukan dengan dapat bocoran pertanyaan." lanjutku.

"papa tahu darimana?"

"Ada hal yang lebih penting dari pada menang dan kalah nak." kataku. "Apa yang bisa kau banggakan dari kemenangan yang didapat dengan cara yang curang? Kecuali piala, kamu masih ikut membawa rasa bersalah." kataku.

Dia menatap ku sinis.

"Dan sebaliknya, pelajaran besar apa yang kau dapat dari kekalahan ini? Apa kelemahan dan kekuranganmu serta kesiapanmu untuk menerima hasilnya?"

Kami banyak bercerita tentang kejujuran sepanjang perjalanan pulang.

Meski kesal dengan sikap gurunya, tapi aku ngga mengucapkan kekesalanku didepan Nailah. Aku tahu, guru juga manusia. Egonya juga bisa menggodanya untuk menunjukkan kalau muridnya juga bisa juara.

Related Posts
SHARE
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Sticky Note