n1ljWYmZyLaHa1TMPYBBtiqVcQolSr0KLMIOwgVb

Cari Blog Ini

Gambar tema oleh Igniel

Laporkan Penyalahgunaan

Mengenai Saya

Jangan Posting Kalau Nggak Ada yang Bisa Dibagikan

Jangan Posting Kalau Nggak Ada yang Bisa Dibagikan
Di Posting Oleh : PAKNAI
Kategori : Kita

bagi makanannya bukan fotonya
Siang itu, sebuah foto pizza mampir di story WhatsApp temanku. Tampilannya begitu menggoda, lengkap dengan caption yang meyakinkan: "Pizza terbaik minggu ini." Kebetulan selera makanku sedang drop hari itu, dan visual pizza tersebut sukses membangkitkan cacing-cacing di perutku.

Tanpa pikir panjang, langsung kutelepon dia. "Bro, tolong bungkusin satu porsi dong buat dibawa pulang. Nanti pas balik kerja gue jemput ke rumah lu," ujarku bersemangat.

Di ujung telepon, terdengar jawaban santai yang meruntuhkan ekspektasiku. "Waduh, itu foto minggu lalu, Bro."

Seketika aku merutuk dalam hati. Bayangan kelezatan pizza yang sudah telanjur menari-nari di lidah terpaksa harus ditelan bulat-bulat bersama ludah. Kecewa? Jelas. Apalagi setelah dia menambahkan bahwa restoran tersebut berada di luar kota yang sama sekali tidak bisa kami jangkau hari ini.

Aku dongkol.

Mungkin ceritanya akan berbeda jika dia memang sedang memegang pizza itu dan bisa membaginya denganku. Tapi dengan situasi seperti ini, aku jadi bertanya-tanya: apa sih untungnya memamerkan foto makanan yang bahkan sudah jadi kotoran seminggu lalu? Lalu, siapa yang bertanggung jawab atas ekspektasi dan rasa lapar yang telanjur timbul akibat postingan itu?

Bagi kamu yang hobi memajang foto makanan di media sosial, sadar atau tidak, membagikan visual makanan di timeline sebenarnya memberi dampak psikologis negatif yang lebih besar bagi orang lain ketimbang manfaat yang kamu dapatkan. Kecuali, jika kamu memang sedang berjualan makanan tersebut.

Seorang teman pernah berdalih bahwa memposting hal-hal seperti itu adalah cara untuk menunjukkan kelas sosial. Mendengar itu, aku hanya tersenyum kecut. Sepanjang mengamati media sosial, aku belum pernah melihat konglomerat sekelas Hary Tanoesoedibjo, Chairul Tanjung, atau Yusuf Hamka sibuk memamerkan apa yang piring mereka hidangkan hari ini. Pertanyaannya kemudian: kelas sosial mana yang sebenarnya sedang kita tiru?

Mari jujur pada diri sendiri. Jangan-jangan, motif utama di balik semua itu hanyalah perburuan validasi. Ada ego yang terpuaskan saat dicap sebagai trendsetter yang tahu tempat-tempat makan hit, atau rasa bangga terselubung saat rekomendasi kita dianggap sahih. Pertanyaannya, jika tujuannya memang tulus ingin merekomendasikan ke teman dekat, kenapa tidak dikirim via jalur pribadi saja? Apakah semua rekam jejak hidup kita harus digelar di ruang publik?

Ironisnya lagi, yang dipajang adalah foto lama (latepost). Apakah ada jaminan restoran itu masih beroperasi dengan kualitas yang sama hari ini? Bagaimana jika tempat itu sudah gulung tikar, pindah alamat, atau kunjunganmu tempo hari ternyata adalah hari terakhir mereka open order? Kamu membagikan sesuatu yang masa kedaluwarsa informasinya saja kamu tidak tahu.

"Zaman sekarang, validasi lewat like dan komen itu penting, Bro," mungkin begitu pembelaanmu.

Kalau saja aku tipe orang yang tega, momen inilah yang paling tepat untuk meruntuhkan citra yang sedang kamu bangun. Bayangkan jika aku menuliskan fakta sebenarnya di kolom komentarmu: "Wah, foto jadul diposting lagi nih, Bro?"

Kira-kira, bagaimana reaksi netizen yang melihatnya? Apakah target validasimu akan tercapai, atau justru kamu yang akan berakhir menjadi bahan perundungan digital?

Fenomena ini mendadak mengingatkanku pada masa-masa mengaji dulu. Pak Ustadz pernah mengulas sebuah hadis indah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, saat Rasulullah SAW berpesan kepada Abu Dzar:

“Jika engkau memasak masakan berkuah, perbanyaklah kuahnya, kemudian lihatlah anggota keluarga dari tetanggamu, maka berikanlah kepada mereka dengan baik.” 
;

Saat itu Pak Ustadz menjelaskan analoginya secara sederhana: ketika kita memasak gulai di dapur, aromanya yang gurih bisa melompati pagar dan tercium oleh tetangga. Aroma itu menciptakan bayangan kelezatan di kepala mereka, memicu rindu di lidah mereka, dan jika mereka tidak mampu membelinya, hal itu bisa menyiksa batin. Itulah mengapa Islam mengajarkan kita untuk membagi kuahnya; sebagai bentuk tanggung jawab sosial atas "sensasi" yang telanjur kita tebar.

Hari ini, di era digital, foto makanan yang kamu unggah memang tidak mengeluarkan bau yang mengganggu hidungku. Namun, visual yang tertangkap oleh mata ternyata bekerja dengan cara yang persis sama dengan indra penciuman. Gambar makanan itu melompat dari layar ponsel, masuk ke pikiran, dan mengobrak-abrik isi lambung orang lain.

Melihat dampaknya yang nyata, apakah kamu masih merasa bisa lepas tangan dan tidak perlu bertanggung jawab atas rasa ingin yang kamu ciptakan?

"Ya lagian salah sendiri, itu kan cuma foto lama," kilahmu lagi.

Justru karena itu hanya sebuah arsip masa lalu yang tidak bisa mengenyangkan perutku hari ini, aku memilih untuk menulis. Karena di tengah kepungan visual yang semu ini, menuangkan kekesalan menjadi kata-kata adalah cara terbaik bagiku untuk tetap waras.

Tulisan ini mungkin terdengar seperti curhatan yang emosional. Namun, setidaknya ada satu pesan penting yang kuharap bisa mengendap di kepalamu: jauh lebih mulia membagikan makanan aslinya kepada satu orang terdekat, daripada memamerkan fotonya ke hadapan publik yang hanya bisa menelan ludah

Related Posts
SHARE
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Sticky Note