Di Posting Oleh : PAKNAI
Kategori :
Aku menikmati proses menulis yang ku lakukan selama ini. Setiap goresan tinta di atas kertas menjadi salah satu alat untuk menjaga kesehatan mental ditengah tumpukan informasi yang ada dikepala. Aku sadar, meski hanya sebagai pelampiasan, tapi aku ingin memperdalam kemampuan menulis ku dan menjadikannya sebagai aktifitas utama dan sebagai sumber mata pencaharian di kemudian hari.
Namun, aku terbentur pada satu peristiwa. Banyak pekerja kreatif yang harus berhenti berkarya karena tuntutan hidup. Kemudian muncul pertanyaan di kepalaku, "apakah aku harus melanjutkan keinginan ini jika mereka yang sudah ada didalamnya saja memilih untuk berhenti?"
Aku membaca beberapa alasan mereka yang berhenti. Tapi, aku ngga puas. Sepertinya masih ada gap antara apa yang mereka alami dengan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Hal ini membuat ku semakin penasaran untuk memulai.
Kalau pada saat itu ada yang bertanya aku takut atau ngga, tentu saja aku takut. Tapi, rasa takut itu aku arahkan untuk melanjutkan pencarian tentang kesalahan-kesalahan apa yang telah kreator-kreator ini lakukan sehingga mereka memutuskan untuk mengorbankan proses kreatif-nya demi bisa memenuhi kebutuhan hidup.
Dalam pencarianku, aku bertemu dengan tulisan dari Mark Manson. Dia adalah penulis dari buku best seller The subbtle art of being fuck. Tapi yang ku baca bukan buku itu. aku membaca dari artikelnya yang lain. Dalam artikel itu dia bilang:
"kita ngga pernah jujur. Kita ngga jujur tentang bidang apa sebenarnya yang kita geluti."
Kalimat ini menjadi tamparan bagiku. Aku merasa ini menjadi sumber masalah utama kenapa tulisan-tulisanku kurang beresonansi dengan pembaca. Aku merasa terlalu banyak tahu tentang berbagai hal, kemudian aku menuliskannya seperti seorang yang ahli pada bidang tersebut. Lalu, seperti tulisan ini. Kalimatnya kaku, dan kelihatan banyak mengutip pendapat orang lain. Dan akhirnya pembaca ngga tahu kalau penulisnya adalah aku.
Mungkin ini juga yang terjadi dengan pekerja kreatif yang berhenti itu. Demi "Personal Niche Branding" mereka membuat sesuatu yang bukan dirinya. Mereka memaksakan diri untuk tampil sebagai ahli dalam suatu bidang dan kemudian memainkan peran tersebut dalam episode panjang hingga akhirnya kepalsuan itu terbuka sendiri.
Padahal, "Ilmu itu luas, tapi pengetahuanmu terbatas."
Ini bukan larangan untuk menulis atau menciptakan karya yang tidak sesuai dengan dirimu sendiri. Namun sependek pemikiran ku adalah ngga peduli kamu menciptakan karya apa, tapi kamu harus tahu kemana karya tersebut akan kamu arahkan agar sesuai dengan pesan inti yang sedang kamu sampaikan.
Sebagai contoh. aku termasuk orang yang mendapat banyak keberuntungan, dan ingin berbagi keberuntungan itu pada pembaca blog ini. Kalau mengikuti pesan dari Mark Manson maka "aku bisa menulis tentang sepakbola, bencana alam, isu sosial, kejahatan, dan sebagainya. Tapi kemudian aku harus mengarahkannya pada thema keberuntungan seperti yang sedang aku kampanyekan."
Disitulah letak kejujurannya.
Ngga ada larangan untuk menulis kategori apa saja. Tapi tetap ingat bahwa kamu ngga ahli dalam semua kategori itu. Kamu harus tahu batasan. Karena kamu hanya akan mendapat pembayaran sebagai hasil dari pekerjaanmu.
Namun, Karena begitu banyak manusia didunia ini, dan kita meyakini bahwa setiap orang itu adalah unik. Maka tugasmu sebenarnya berat. Kamu harus melayani mereka dari semua sisi (emosi, pekerjaan, latar belakang, kondisi ekonomi, dll), kemudian mengarahkan mereka ke Uang cash (keberuntungan) yang kamu pegang.
Sulitkah?
Aku yang baru akan memulai sudah merasakan panas di kepalaku saat memikirkannya. Tapi aku rasa ini salah satu langkah untuk jujur pada diri sendiri. Jujur karena aku masih membutuhkan uang cash dalam menyambung hidup. dan sebagai cara untuk mengurangi dampak mental dari kebohongan yang pernah terbagikan.
Posting Komentar
Posting Komentar